Main shortcutMenu shortcuts

Detail

thought

Misuh
Saya dulu itu sopan, bahasanya halus, baik budi, tak sombong suka menolong, manis, berbudi luhur. Sungguh. Kalau tak percaya, coba tanya saya. Pasti saya benarkan.

Saya hobi misuh sejak di tinggal di Surabaya. tepatnya sejak berkenalan dengan kawan-kawan saya yang asli Surabaya, saya jadi hobi misuh. Setiap saat misuh. Macam, “Jancuk...wetengku sakit kepengin ngising..cuk". Barangkali, itu adalah cara paling gampang buat saya untuk masuk ke dalam budaya Surabaya. Saya menyukainya. Sepenuh hati.

Dan misuh ini keluar spontan tanpa memandang batas usia dan sosial. Dari kawan yang religius penuh doa hingga kawan yang tiada hari tanpa ganja. Dari kawan yang sebaiknya tanpa muka hingga kawan yang cantik gantengnya hingga ujung dunia. Walau awalnya, saya sempat komentar, "Astaga, ayu-ayu kok misuhan..". Komentar itu sekarang berubah, "Cuk, koen ayu kok gak misuhan..Bablas ayu-mu".

Sebaliknya, saya pun mengajari teman-teman saya hal-hal menyenangkan dari Bali. Karena saya tak mungkin meminta mereka makan babi guling padahal itu makanan paling enak dunia akhirat, saya akhirnya mengajarkan mereka bahasa Bali. Tentu, seperti halnya jancukan, saya juga mengajarkan nas-kleng, celak barak, atau minimal meyakinkan mereka bahwa bojog itu adalah ganteng. Sehingga, puas rasanya sambil ngikik melihat teman-teman saya dengan bangga berkata, "Aku guanteng koyok bojog, gitu ya gak?". Tentu setelah mereka tahu bojog itu monyet, mereka misuhi saya.

Misuh sebagai ekspresi spontan. Tak hendak memaki orang lain. Tapi ya gimana, nama saya juga ternyata ada unsur maki-annya. Saya ingat pernah suatu saat, kawan saya ketemu saya di mall gitu, dengan suara lantang dia berteriak memanggil saya, "Baaaaaaaang Sat". Mungkin seantero mall enam lantai itu sontak berhenti sejenak. Menunggu apakah ada shooting sinetron.

Saya percaya, bom itu tak akan merubah kota saya ini. Aku gak wedhi, aku ancen rodok nderedeg. Konsepsi "tidak takut" ini bukan soal tidak takut berhadapan dengan teroris. Kalau di depan saya ada teroris pegang bom gitu, mungkin saya sudah pingsan duluan. Tapi ini soal sikap menyatakan perlawanan kepada mereka yang mencoba menghancurkan ketenangan dan kedamaian kota ini.

Karena saya mencintai kota ini. Yang membuat saya belajar bahwa kita bisa ekspresif tanpa harus eksplosif. Apa adanya tanpa pura-pura.

Surabaya, jangan menyerah. Tetaplah seperti apa adanya. Seperti yang selama ini aku cinta.

#surabayatetapada #surabayawani #terorisjancok #SurabayaGakWedhi

Sign in and add friend to comment