Main shortcutMenu shortcuts

Detail

thought

*Berpakaian

Islam mengatur dengan sangat brilian bagaimana hidup sederhana. Dari ujung ke ujung, agama ini mendidik, menasehati kita, tidak jemu-jemu, agar kita selalu punya pemahaman baiknya. Bersahaja.

Dalam berpakaian misalnya, ijinkan saya mengutip sebuah hadist, Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa meninggalkan pakaian yang mewah-mewah karena tawadhu kepada Allah, padahal ia mampu membelinya, maka Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia sukai untuk dipakainya.” (HR Ahmad & Tirmidzi).

Hadist ini jernih sekali, tidak perlu tafsir berat memahaminya. Penjelasannya cukup. Maka bagi orang-orang yang taat, cukup sekali mendengarnya, dia akan berkata mantap, saya dengar saya taat. Tidak ada lagi diskusi. Apalagi mendaftar pertanyaan yang sejatinya simpel mendaftar argumen ngeles saja, karena ogah melaksanakannya.

Ingatlah selalu, adik-adik sekalian, esensi agama itu ada di dalam substansinya, bukan bentuk luar kasat-mata yang seringkali dihinggapi pamer, ujub, riya pun sombong. Kitalah yang memeluk damai pemahaman tersebut, melaksanakannya dengan khidmat; meskipun kita tidak punya pakaian bermerk puluhan juta, jas, aksesoris jam, kalung, sepatu kinclong, kitalah yang memeluk tenteram pemahaman itu. Nasehati sekitar kita--karena jatuh hukumnya kita juga menasehati, agar senantiasa hidup bersahaja.

Aih, tidak tahukah kita, tidakkah kita mendengar kisah2nya, Rasulullah itu pakaiannya sederhana sekali. Lantas kita akan datang kepadanya, hendak bergabung bersamanya, sambil memakai pakaian bermerk, mahal2, mewah2? Isin.

*Tere Liye

Sign in and add friend to comment