Main shortcutMenu shortcuts

Detail

thought

Dua hari ini, saya kalau lagi nganter pizza, nyetirnya adem banget. Extra hati-hati. Jadi setiap mau nganter pizza ke kastamer, saling ngingetin: double demerits loh.

Iya, saya bukan pengendara yang baik, saya tahu itu. Tapi di negeri ini saya belajar nyetir dengan tertib. Tapi e tapi, waktu di Indonesia, saya ndak pernah loh ikutan ngebut di belakang ambulans yang lagi nguing2, atau ikutan pasang lampu hazard di belakang deretan mobil yang pasang hazard ngikutin mobil polisi. (Hayo..yang sering kayak gitu...ngaku..)

Minggu ini long weekend, dan polisi nerapin double demerits point. Artinya setiap pelanggaran, poin pelanggarannya jadi double. Yang lebih gawat lagi, denda duitnya juga double!!!

Saya pernah merasakan sakitnya kena denda. Walau bukan saat double demerit, tapi tetap sakitnya berlipat. Ini gara-gara saya belok kok ya pas lampu berubah merah. Saya waktu itu yakin lampu masih kuning, karena pas belok. Tapi pas mau appeal dan lihat bukti foto berwarna di web-nya polisi, tampak jelas lampunya merah. Ya sudah...

Yang bikin sakit hati berlipat ganda, untuk urusan itu saya terkena tiga pelanggaran sekaligus: 1. Tidak berhenti di belakang garis putih tanda berhenti. 2. tidak berhenti saat lampu merah 3. Membahayakan keselamatan diri sendiri maupun pengguna jalan lain.

Buset dah. Jadi tidak HANYA melanggar lampu merah. Dan tiap pasal pelanggaran, saya kena denda 100 dollar. Jadi total 300 dollar saya harus bayar !! Dargombes tenan.

Mirip jomblo yanh ditolak idolnya karena tiga alasan: 1. Kamu baik sekali 2. Kamu terlalu baik buat aku 3. Kita berteman sajaz

Sakit ndak sih, Mblo?

#jombloisme
#baladapizzadriver

Sign in and add friend to comment