Main shortcutMenu shortcuts

Detail

SatryaSatrya: Nyepi.

Saya bukan penganut agama yang taat. Ini perlu saya jelaskan di awal, daripada nanti ada yang nyinyir mempertanyakan ketaatan saya beragama seperti waktu lalu saat saya meributkan soal internet dan Nyepi. Sebagai perbandingan, kalau satu dosa itu harus membuat satu helai rambut saya dicabut, maka barangkali kini saya sudah tak berambut atas bawah (Hey, saya memang agak botak, tapi bukankah hero-hero dalam film juga botak? Bruce Willis misalnya)

Tapi, setiap Nyepi pasti ada saja hal menarik yang saya ingat. Misalnya, sejak kecil, merayakan Nyepi di rumah, selalu dipenuhi kesibukan persiapan seharian di rumah. Maka yang terjadi sebenarnya adalah "pelanggaran". Misalkan, uji nyali keluar rumah, lalu semburat lari ke dalam sembunyi begitu di kejauhan terlihat serombongan orang berkain poleng atau pecalang terlihat. Padahal mereka belum tentu lihat kami. Lalu, saat malam, berkumpul bersama di bale delod, mendengarkan bapak-ibu saya menceritakan nostalgia masa lalu saat hidup Kuta awal 60-70an yang masih lebih sepi daripada hati-nya jomblo. Termasuk soal bertemu UFO (Serius, beneran nih), atau geger masa 65. tentu, sembari mendengarkan suara burung yang saya lupa namanya, yang jelas terdengar saat Nyepi. Kicau burung ini memang terdengar sedih, ibarat ibu kehilangan anak. Bisa jadi, burung-burung ini berkicau tiap hari, tapi tak bisa didengar karena riuh-nya suasana.

Lalu, saya memulai suasana baru Nyepi di tanah jawa. Saat itu karena serumah masih dengan orang Bali semua, dan kebetulan mereka semua orang Bali Hindu garis lurus macam Krisnaroopa Candraraj Nyoman Sutama Gusti Krishnahari Sudiarsa Wayan Wahyu Dhyatmika, saya yang Bali-Hindu garis ndak jelas ini tentu belajar ber-Nyepi dari mereka sesuai ajaran, semisal puasa. Walau banyak gagalnya. Sudahlah, dari awal saya sudah bilang saya banyak dosa.

Lalu, saat menempati rumah di Sidoarjo, saat di perumahan itu masih diisi beberapa orang termasuk tetangga kiri kanan dan depan saya, saya menjalani Nyepi seorang diri sebagai jejaka satu-satunya di perumahan itu. Iya, saya waktu itu menjalani hidup senang tiap sabtu diajak muter-muter sama kipas angin, sambil melihat tukang galon ngantar galon, dan mendadak punya adik banyak dimana-mana. Maklumlah, saya orang manis, bukan artis.

Saat itu, saya berlagak mencoba Nyepi sendiri. Sejak pagi saya siapkan diri untuk tak keluar rumah, tak melakukan apapun, tak makan dan bahkan tidak mandi (ini sih ndak Nyepi juga saya sering ndak mandi dua harian). Sampai sore, berhasil walau konsentrasi pecah karena lapar melilit. Di luar tetangga kiri kanan saya sudah ribut berkicau menikmati hari. Menjelang jam 9 malam atau 10, saya lupa, mata saya sudah mulai sepet dan mengantuk tapi ndak bisa tidur. Tiba-tiba dari luar terdenar teriakan,

"Mas Satryaaaaaa....mas satrya ndak apa-apaaa?"
"Ooom...oom kenapa?'

tetangga sebelah rumah beserta anak-nya sudah teriak-teriak depan rumah sambil sesekali ngetok, eh nggedor gerbang depan.
lalu saya mendengar suara si ibu meminta anaknya loncat pagar! Iya loncat pagar. Saya buru-buru keluar kamar dan membuka pintu, tentu masih gelap kecuali teras depan yang agak terang karena terpapar lampu jalan.

Melihat saya keluar, si ibu jadi lega,
"Looh, sampeyan ndak apa-apa tho Mas? (entah kenapa saya dipanggil Thomas, padahal nama saya Satrya)"
"Oh ndak apa-apa, tante.."
"Lha sampeyan gak metu-metu ket isuk, aku yo dadi khawatir Mas. Motore sampeyan onok, tapi kok omahe peteng kabeh"
"Oh ndak apa-apa kok"
Saya tak berminat waktu itu menjelaskan bahwa ini Nyepi dan bagian dari ritual yang ingin saya lakukan. tetangga saya maksudnya baik. Lalu,
"Sampeyan lak pasti durung mangan sih? Iki tak gawakno opor ayam..."

Saya terdiam. Godaan macam apa pula ini. Saya selalu meyakini satu hal, kalau disuruh milih, "Doing kind or doing right". tentu saya milih "doing kind".
Opor saya terima dengan gembira. Saya lupakan ide bikin mie goreng telor tadinya buat berbuka puasa.

Akhirnya, sebelum tengah malam, ritual Nyepi saya buyar. Berakhir dengan saya tertidur kekenyangan. Berkat opor ayam dari tetangga. Lalu siapa yang salah, ya saya lah. Malah tetangga saya dapat pahala karena memberikan opor ayam-nya ke saya. Kan sudah saya katakan, saya banyak dosa.

Selamat melaksanakan brata penyepian, kawan-kawan.
a month ago
View 1 more comments
Sign in and add friend to comment