Main shortcutMenu shortcuts

Detail

SatryaSatrya: Es (jeruk) mandarin

Ini es jeruk. Literally. Jeruk yang jadi es. Kapan hari, kulkas penuh dengan persediaan para mahasiswa estiga yang terbiasa ngendon di ruang ini tiap hari hingga malam. Saya sampai lupa kalau saya punya jeruk satu tas di kulkas. Pagi ini, saya coba temukan di antara bungkusan makanan lain. Seminggu di kulkas membuat jeruk ini membeku. Serasa makan es jeruk. Tentu tak seenak es jeruk di Indonesia yang es batunya mungkij sudah berpindah gelas beberapa kali dan jeruknya sudah menclok di warung sejak jaman abad pertengahan.

Tapi bagi teman saya yang Australia, dan tentu bagi supermarket yang jualan ini, ini bukan jeruk. Ini namanya mandarin. Jadi kalau nyari di daftar harga, bukan pada daftar "orange" tapi pada daftar "mandarins". Kalau orang Indonesia, ya semua namanya jeruk dengan beragam varian: jeruk peres, jeruk bali, dan ya jeruk mandarin.

Di sini yang namanya orange ya jeruk peres. Tapi kalau jeruk imut gini namanya mandarin. Ndak pake orange. Entah kenapa. Teman saya yang orang China juga bingung. Apalagi kalau di Australia, yang namanya China itu bukan negara atau orang, tapi porselen. Keramik pecah belah namanya China.

Jadi kalau mau cari keramik pecah belah gitu nyari-nya di bagian China.

Ah entah kenapa. Mungkin karena jeruk imut dan porselen itu dulu karena asalnya dari China atau banyak dibawa pedagang dari China. Jadi ya sekalian digampangin dengan nyebut "mandarin" dan "china". Identik dengan China.

Mirip saya lah. Karena semua orang nyebut saya manis begitu, jadi setiap orang nyari orang manis, pasti ya nyari-nya saya. Dosen manis, igak manis. Pokoknya setiap ada yang nyebut manis begitu, bulu mata saya langsung jatuh, jari tiba-tiba kejetit, bulu roma merinding, ya semua penanda gitu deh.

Jadi, manis jadi identik dengan saya.

.....
.....
.....
......
....................juga kucing.

*protes tak sawat jeruk

#baladamahasiswaestiga

......
a month ago
View 1 more comments
Sign in and add friend to comment